PERKINews

Informasi Seputar PERKI JAYA

Medical Theme Health and Care

Gagal Jantung, Upaya Prevensi Jauh Lebih Penting

Menduduki peringkat pertama sebagai penyebab kematian di Indonesia, penyakit gagal jantung harus diantisipasi dengan baik. Pengenalan gejala dengan benar akan membantu dalam melakukan upaya pencegahan.

Gagal jantung sesungguhnya merupakan sebuah keadaan kompleks, terkait dengan banyak faktor. Diantaranya terkait dengan faktor-faktor patofisiologi, yaitu faktor neurohumoral. Sebuah kenyataan bahwa jantung tidak bisa memenuhi tugasnya sebagaimana mestinya, dan memaksa proses aktivasi beberapa sistem humoral tubuh untuk mengkompensasi kegagalan fungsi jantung.    

Proses aktivasi selanjutnya juga terjadi dalam renin-angiotensin-aldosteron-system. Proses ini memiliki tujuan sama, membantu jantung memenuhi tugasnya. Tapi sayang, manfaat kedua proses aktivasi hanya pada fase awal, sementara untuk jangka panjang akan merugikan dan menimbulkan banyak perubahan struktur jantung dan pembuluh darah.

Pada saat itu, jantung akan mengalami perubahan struktural yaitu akan terjadi progressive remodelling dari ventrikel kiri. Jika ini berlangsung terus-menerus, akan menimbulkan gangguan fungsi jantung. Jantung akan melemah, sekaligus memperlemah kondisi pasien.

Perhatikan Sesak Napas

Dalam gagal jantung kronis (chronic heart failure), ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, apakah menderita sesak napas. Lebih lanjut, gradasi sesak napas dibagi lagi menjadi beberapa klasifikasi. Sesak napas timbul karena orang melakukan aktivitas berat sehari-hari. Lalu sesak yang ditimbulkan dari aktivitas ringan. Kemudian sesak karena aktivitas fisik yang lebih ringan lagi seperti berjalan beberapa langkah saja. Dan terakhir, sesak napas dalam kondisi tengah beristirahat. Meski sesak napas bukan selalu merupakan gagal jantung tetapi harus diperhatikan serius. Lantaran sesak napas menjadi salah satu tanda gejala gagal jantung.

Aspek kedua, melihat kondisi umum. Biasanya penderita gagal jantung merasakan simptomnya letih, kurang bergairah, mudah capek, perasaan kembung, ditambah dengan nafsu makan yang kurang. Kondisi ini juga ditandai dengan retensi cairan dan kaki bengkak.

Kesalahan terbesar pasien adalah bahwa saat terjadi sesak napas, mereka mengira bahwa yang mereka derita adalah penyakit paru-paru.  Untuk itu lebih berhati-hatilah dalam mengenal gejala penyakit gagal jantung. yang semakin berkembang.

Namun, secara umum prevalensi meningkatnya penyakit gagal  jantung bersumber pada keberhasilan pengobatan jantung akut, terutama serangan jantung. Kalau dulu serangan jantung mortalitasnya tinggi, kini mortalitas penyakit jantung semakin rendah. Tapi justru inilah yang menyebabkan meningkatnya angka gagal jantung. Setelah lolos dari serangan jantung, maka pasien secara otomatis di tahun-tahun mendatang, berpotensi terkena penyakit gagal jantung.

Dalam sepuluh tahun terakhir, penyakit gagal jantung semakin meningkat. Jika dilihat dari faktor usia, separoh baya, atau 50 tahun ke atas memiliki potensi yang lebih besar jika dibandingkan dengan yang muda. Sebab pada golongan muda memiliki etiologi berbeda.

Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, prialah yang paling banyak ditemukan. Prevalensi penyakit hipertensi dan penyakit jantung iskhemik menunjukkan sebagian besar adalah pria, meskipun wanita saat menginjak menopause akan mengejar pria.

 

Jangan Ditunggu

Sebenarnya yang terpenting dalam menghadapi penyakit gagal jantung adalah upaya preventif. Jangan sampai kita menunggu datangnya penyakit gagal jantung datang. Dengan sendirinya pola hidup sehat, kemudian faktor-faktor penyebab penyakit jantung koroner harus kita tumpas semuanya. Antara lain merokok. Selain itu kita juga harus rajin berolahraga, membenahi pola makan, menghindari makan makanan berlemak,  jangan terlalu berlebih dalam mengkonsumsi karbohidrat,  dan istirahat cukup.

Jika sejak dini telah dideteksi adanya hipertensi, maka secepatnya diobati, sebab kebanyakan orang masih enggan memeriksakan diri atau berobat saat mengalami gejala-gejala hipertensi. Perlu sebuah edukasi, dimana dokter perlu waktu untuk menjelaskan semua faktor risiko yang terkait apabila hipertensinya tidak diobati. Semua faktor risiko tersebut kita harus kendalikan.

Sesuai dengan perkembangan teknologi, pengobatan gagal jantung juga semakin meningkat. Diantaranya digitalis sebagai pengontrol irama jantung, dan diuretik untuk mengurangi retensi cairan. Kedua fungsi ini hanya bisa memperbaiki simptom, tidak memperbaiki prognose.  

Berikutnya beta blocker.  Ini sebuah paradoks, karena dulu gagal jantung tidak boleh diberi obat ini, akibat pengetahuan patofisiologi yang masih terbatas.  Pengobatan dengan beta blocker ini bukan hanya memperbaiki simptom namun juga meningkatkan survival rate. ACE Inhibitor. Dari trialnya bisa diketahui bahwa simptom dan survivalnya juga diperbaiki. Jika dia intoleran maka bisa digantikan dengan ARB. Jika si pasien sudah mendapatkan ACE-Inhitor, Beta blocker dan ditambah ARB, maka kondisi pasien akan menjadi lebih baik.

Ada juga aldosteron antagonist,  seperti spironolakton. Bagi pasien yang sudah berada pada stadium empat, akan lebih baik jika diberikan spironolakton, yang diberikan on top selain obat-obat  yang telah diberikan kepada si pasien.

Dan bagi yang tetap terganggu secara simptomatologi, kita bisa melakukan CRT (Cardiac Resynchronize Therapy) dari heart failure, ini memerlukan pemasangan pacemaker khusus yang dipasang pada jantung, yang akan membantu pola kontraksi jantung. CRT ini bukan hanya memperbaiki simptom melainkan juga memperbaiki prognose gagal jantung pasien. Kita bersyukur CRT ini sudah ada di Jakarta.

Lepas dari semua itu, yang paling utama adalah memberikan informasi sejujur-jujurnya kepada pasien, apapun kondisinya. Saat kontrol atau menjelang pulang, dokter dan pasien merupakan partner yang secara bersama harus menghadapi simptom, gajala klinis, dan hal lain agar si pasien tidak putus asa. Khusus untuk dokter, meskipun kemampuan masih terbatas, jangan sampai menunjukkan rasa pesimis kepada pasien. Sebaliknya, justru bangunlah rasa optimisme si pasien. (red)