PERKINews

Informasi Seputar PERKI JAYA

Medical Theme Health and Care

Serangan Jantung

Penyakit jantung masih merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk Indonesia. Badan WHO (World Health Organization) memperkirakan dua dekade mendatang, penyakit jantung akan menjadi beban penyakit kedua terbesar dunia sesudah gangguan kejiwaan. Seiring kemajuan zaman, usia harapan hidup akan meningkat, termasuk di Indonesia. Kemajuan ilmu dan teknologi terapi penyakit jantung dan metabolik akan menghasilkan penderita-penderita yang selamat dari penyakit jantung dan memperpanjang usia mereka. Pengobatan dan terapetik jantung memakan biaya yang sangat tinggi. Tentu hal ini akan membuat jumlah penderita penyakit jantung semakin banyak di masa mendatang. Demikian pula beban akibat penyakit jantung tersebut, baik beban ekonomi maupun sosial.Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) mengemukakan bahwa penyakit jantung termasuk penyakit dengan beban biaya klaim tertinggi selain kanker dan cuci darah.

            Penyebab tersering kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner (PJK). Selain PJK, penyakit jantung juga mencakup penyakit gagal jantung, penyakit katup jantung, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan/kongenital, infeksi jantung, dan gangguan irama jantung. Semua kelainan jantung tersebut dapat berujung pada kondisi terminal dan kematian. Kematian mendadak (sudden death) biasanya akibat gangguan irama jantung fatal.

            Koroner merupakan pembuluh darah yang menyuplai darah bersih mengandung nutrisi dan oksigen untuk kebutuhan metabolisme dan fungsi jantung. Istilah PJK merujuk pada semua kelainan pada pembuluh koroner yang mengakibatkan gangguan suplai darah bersih tersebut ke jantung. Terdapat dua kondisi PJK, yaitu PJK yang bersifat stabil dan tidak stabil. Istilah serangan jantung (heart attack) pada masyarakat merujuk pada PJK yang tidak stabil. Pada serangan jantung terjadi penyempitan aliran darah koroner yang terjadi secara cepat dan mendadak, bahkan bisa menyumbat total. Hal ini membuat jantung mendadak tidak mendapat pasokan darah yang cukup sehingga terjadi kerusakan struktural dan fungsi jantung. Otot jantung akan mati dan rusak sehingga melemahkan fungsi jantung. Berbagai komplikasi dapat muncul, seperti tekanan darah turun, sesak nafas berat, gagal jantung akut, gangguan irama jantung hingga mati mendadak. Semua terjadi secara cepat dan tidak terduga. Serangan jantung secara medis terbagi tiga, yaitu unstable angina, NSTEMI, dan STEMI. Diagnosis dan pembagian serangan jantung tersebut berdasarkan pola keluhan pasien, elektrokardiogram (EKG/rekam listrik jantung), dan/atau hasil enzim jantung melalui pemeriksaan darah.

Berbagai penelitian besar di luar negeri telah membuktikan bahwa tindakan kateterisasi koroner dengan balon dan/atau stent (percutaneous coronary intervention/ PCI) pada serangan jantung lebih baik daripada hanya terapi obat. Pada STEMI, tindakan PCI harus secepatnya dilakukan agar dapat menyelamatkan jantung pasien. Jika tidak memungkinkan PCI, terapi pengencer darah “fibrinolitik” dapat menjadi alternatif bila serangan jantung baru berlangsung <12 jam. Hal tersebut sudah menjadi guideline penanganan STEMI di dunia. Pada NSTEMI, banyak penelitian terakhir (TIMI IIIb, RITA III, FRISC, TACTICS-TIMI) menunjukkan bahwa PCI selama perawatan pasien NSTEMI lebih baik daripada hanya terapi obat, terutama pada pasien dengan risiko tinggi. Tindakan kateterisasi dengan balon dan pemasangan stent/ring pada pasien serangan jantung telah terbukti dapat menurunkan komplikasi, serangan jantung berulang, dan kematian akibat serangan jantung tersebut. Meski demikian, berbagai kondisi pasien secara individual tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi terapi bagi pasien tersebut, apakah harus segera dilakukan tindakan PCI atau tidak.

            Kondisi di atas membuat kita melihat bahwa serangan jantung sangat menakutkan. Tidak hanya risiko mati mendadak yg menjadi momok, tapi beban ekonomi sosial berkepanjangan yang timbul akibat kondisi tersebut. Tindakan kateter dan bedah jantung perlu biaya tinggi. Pasien penyakit jantung juga biasanya harus minum obat dan kontrol rutin seumur hidup apabila tidak mau mengalami keluhan berulang, perawatan berulang, atau mati mendadak. Oleh karena itu, lebih baik bila kita dapat melakukan pencegahan timbulnya penyakit jantung. Jikalau akhirnya mengalami penyakit jantung, diharapkan kondisi penyakitnya tidak berat berkat pencegahan awal yang baik.

            Pencegahan dapat dilakukan dari pola makan yang baik dan olahraga teratur. Proses pembentukan plak penyempitan di koroner sudah dapat terjadi sejak umur 18 tahun, sehingga pengaturan pola makan yang baik perlu sejak usia remaja, bahkan anak-anak. Pola makan baik sejak dini akan menjadi suatu kebiasaan gaya hidup yang akan dibawa hingga tua sehingga bersifat pencegahan primer jangka panjang. Diet yang baik untuk kesehatan jantung adalah diet yang rendah lemak jenuh dan trans fat, rendah natrium, tinggi serat. Makanan yang mengandung lemak tak jenuh (polyunsaturated) baik untuk jantung, seperti biji-bijian, kacang almond, walnut, minyak/biji bunga matahari, minyak zaitun, dan susu skim milk atau low fat. Daging ayam (kecuali kulit) dan ikan juga dapat dikonsumsi. Konsumsi sayur-sayuran dan buah perlu ditingkatkan. Sebaliknya produk hewani seperti mentega, daging merah, daging olahan (kalengan, sosis), pizza, sup daging, sandwich, hamburger perlu dibatasi. Makanan tersebut dapat sebagai makanan “sekali-kali” saja dan tidak boleh sering dikonsumsi.

            Selain pola makan yang baik, aktivitas fisik juga perlu mendapat perhatian. Aktivitas aerobik seperti jalan cepat, jogging, berenang, dan bersepeda baik untuk pencegahan penyakit jantung. Aktivitas aerobik sedang (jalan cepat, sepeda santai) tersebut sebaiknya 150 menit/minggu atau 30 menit nonstop tiap sesi dengan frekuensi 5x/minggu. Latihan ditambah dengan latihan beban 2x/minggu. Latihan fisik yang rutin dapat mengontrol tekanan darah, menurunkan kolesterol jahat di darah, dan menurunkan risiko serangan jantung dan kematian akibat jantung.

            Berat badan harus dijaga agar masuk dalam indeks massa tubuh (IMT) yang normal. IMT adalah berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai IMT normal adalah <30 kg/m2. Lingkar perut juga perlu dijaga, dengan batas ideal orang Asia <90 cm pada laki dan <80 cm pada perempuan. Penyakit-penyakit yang menjadi faktor risiko PJK, seperti diabetes mellitus, darah tinggi, kolesterol tinggi juga harus dikontrol rutin. Merokok juga harus distop total. Berhenti merokok total secara langsung biasanya lebih efektif  dan berhasil daripada mencoba mengurangi rokok secara bertahap.

            Tindakan pencegahan juga berlaku pada pasien yang telah mengalami penyakit jantung. Pencegahan sekunder ini bertujuan untuk mencegah berulangnya serangan jantung, mencegah komplikasi, mengurangi gejala, memperbaiki kualitas hidup, memperpanjang harapan hidup. Menderita penyakit jantung tidak berarti semuanya telah tamat. Banyak pasien jantung yang dapat beraktivitas normal dan berumur panjang. Minum obat rutin seumur hidup, tetap menjaga pola makan dan aktivitas fisik aerobik yang terkontrol, serta mengontrol faktor risiko lain (diabetes, darah tinggi, stop rokok) adalah kuncinya.