PERKINews

Informasi Seputar PERKI JAYA

Medical Theme Health and Care

Siaga Satu Jantung !

Mewabahnya serangan penyakit jantung menjadikannya sebagai “Pembunuh Nomor Satu” di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.  Trendnya selain menyerang usia tua, namun serangannya meningkat  drastis pada  kaum muda usia produktif. Saatnya mengumandangkan “Indonesia Siaga Satu  Jantung !”

Seorang eksekutif muda, katakanlah namanya Alex (bukan nama sebenarnya),  tergolong sukses. Diusianya yang tergolong muda (45), Alex  sudah mengemban amanat sebagai direktur di sebuah perusahaan multi nasional di Jakarta. Tiba-tiba suatu  pagi, saat meeting dengan koleganya, Alex mendadak merasakan nyeri dan sakit di dadanya, disertai keringat dingin. Hanya dalam hitungan menit, Alex langsung  ambruk, mendadak  terkena serangan jantung.

Kejadian seperti Alex bukan hal baru lagi di persada nusantara,  baik di Jakarta maupun kota besar lainnya. Sayanganya trendnya kini terjadi pada usia produktif, usia 30 - 40-an.  Kasus serangan jantung  sejenis menimpa banyak kalangan, tidak peduli apapun satusnya. Selain masyarakat awam, para selebiti hingga politisi tak luput dari serangan jantung.

Kecenderungan ini bisa diamati dari Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan menyerang usia produktif. Akankah kita membiarkan generasi   muda kita terancam? 

Mewabahnya penyakit non infeksi “New communicable disease” sebetulnya telah kentara sejak awal dekade tahun 2000. Hasil research SKRT Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2001 saja misalnya, telah  menyingkap bahwa penyakit jantung koroner menempati urutan pertama dalam deretan penyebab utama kematian di Indonesi. Bahkan saat ini penyakit jantung menjadi pembunuh pertama di Indonesia. 

Kematian mendadak akibat serangan penyakit jantung dikenal dengan istilah Sudden Cardiac Death (SCD). Prosesnya kematian SCD ini terjadi sangat cepat, bahkan mendadak. Rata-rata seseorang terkena SCD hanya satu jam sejak timbulnya gejala. Umumnya kematian terjadi akibat timbulnya gangguan irama jantung, berakibat pada kegagalan sirkulasi darah.

Sesuai dengan sebutannya sebagai “Silent Killer”, Proses kerusakan jantung ini telah dimulai dengan proses yang tanpa di sadari. Seseorang tidak merasakan  gejala serius, seolah tidak terjadi apa-apa. Terjadinya kerusakan yang secara berangsur-angsur tanpa disadari,  tanpa dirakan seseoarang,. Hingga suatu saat “Sang Pembunuh” muncul secara mendadak tanpa diduga.

Proses serangan jantung berawal dari adanya proses penumpukan timbunan lemak jenis Low Density Lipoprotein (LDL).  LDL Kolesterol yang mengendap pada dinding arteri sehingga merusaknya. Mulanya berupa  bercak, atau yang dikenal sebagai “Bercak Aterom” yang melapisi dinding pembuluh darah koroner.

Tertimbunnya LDL  kolesterol yang berlebihan dalam pembuluh darah teroksidasi oleh berbagai faktor penyerta yang lain. Timbunan LDL Kolestrol itu kemudian akan membuat tonjolan yang disebut “Plak Aterom” yang berakibat penyempitan aliran darah dalam arteri tersebut. Proses ini semua disebut sebagai “Aterosklerosis”.

Seiring menipisnya dinding arteri, maka plak aterom akan pecah ke dalam aliran dalah. Hal ini akan memicu terjadinya pembekuan darah (thrombus) di atasnya yang dapat menghambat dan menyumbat aliran darah secara tiba-tiba.

Bila serangan hal itu terjadi  pada pembuluh darah arteri yang menghidupi jantung (arteri koroner) yang terjadi adalah serangan jantung akut (infrak miokard). Namun bila terjadi  pada arteri di seputar otak, maka yang terjadi adalah serangan stroke.

Penanganan saat serangan jantung  “Harus” dirujuk langsung ke “rumah sakit” dan di rawat di Intensive Coronary Care Unit (ICCU) untuk diberikan layanan medis dan terapi pengobatan baik oral  (diminum), maupun injeksi anti pembekuan darah.

Pada  rumah sakit modern seperti di RS Pondok Indah ini,  layanan dan penangan pasien yang terkena serangan jantung  dilayani oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah  (SpJP), didukung fasilitas canggih.

 

Kenali Gejala & Faktor Risiko

Proses kerusakan dinding adalam arteri (ateroklorosis) pada dasarnya merupakan proses alamiah,  mengingat seiring dengan bertambahnya usia.  Namun kita bisa berupaya menghambat atau  mengurangi meningkatnbya proses  terjadinya aterosklorosis. ini disebabkan oleh beberapa hal yang  disebut sebagai “Faktor Risiko”.

Seseorang  yang dalam kesehariannya akrab bercengkrama dengan beberapa  faktor risiko,  cenderung menjadi calon pengidap “Penyakit Jantung Koroner” , bahkan berpotensi berpotensi menjadi korban mati mendadak atau Sudden Cardiac Death (SCD).

Faktor risiko ini terdiri atas dua factor, yakni : Pertama, faktor risiko yang tidak dapat diubah (non modifiable) seperti umur, jenis kelamin (gender )dan Keturunan (genetic). Kedua, faktor risiko yang dapat diubah (modifiable), yakni :  Kebiasaan merokok, Kolesterol tinggi,  Hipertensi,  Kurang aktifitas fisik (olah raga), berat badan lebih (obesitas), dan diabetes. Namun faktor lainnya bisa juga dari stress, alkohol, diet dan nutrisi.

Bila memiliki salah satu atau beberapa faktor resiko tersebut diatas, maka dianjurkan secara berkala memeriksakan kesehatan jantung kepada dokter. Ingat! Penyakit jantung dapat muncul tiba-tiba tanpa gejala. Jangan terlena merasa diri sehat-sehat saja, Lakukan medical check up secara rutin di rumah sakit terpercaya.

Sebagai gambaran , sebelum  terlambat, kenali pula gejala serangan jantung. antara lain berupa : Rasa sesak dibagian tengah dada, nyeri dada kiri selama 30 detik sampai 5 menit. Nyeri ini dapat menjalar ke lengan kiri, punggung, leher dan rahang. Nyeri ulu hati juga merupakan gejala. Selain itu biasanya penderita serangan jantung keluar keringat dingin. Mual dan muntah, pusing bahkan bisa sampai pingsan.Penderita penyakit jantung sering merasa sangat lelah, jantung berdebar-debar, bahkan mengalami napas tersengal-sengal saat berolahraga

Langkah penting sebagai antisipasi adalah dengan menjalankan pola hidup sehat. Mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh tinggi, Memperbanyak makanan yang mengandung antioksidan tinggi (Vitamin A, C dan E) seperti buah, sayuran dan biji-bijian.  

 

Gaya hidup sehat menjadi prioritas, terutama tidak merokok dan minum alkohol, menghindari stress, rajin berolah raga. Sebaiknya aerobik selama 30 menit setiap hari, minimal 3-4 kali seminggu, karena dengan berolahraga teratur  dapat memperkuat jantung, membakar lemak dan menjaga kesimbangan HDL dan LDL. Bagi yang berat badan berlebihan, mulailah program penurunan berat badan dengan diet dan olahraga teratur. Menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi dan istirahatlah dengan cukup. (Red - dr. Dolly RD Kaunang, SpJP, SpKP)