PERKINews

Informasi Seputar PERKI JAYA

Medical Theme Health and Care

Tekanan Darah Tinggi : Si Pembunuh Diam-Diam

Tekanan darah tinggi atau yang lebih populer dikenal sebagai hipertensi merupakan masalah kesehatan global saat ini. Bagaimana tidak , tekanan darah tinggi memberikan dampak yang besar bagi masayarakat, tidak hanya di Indonesia, namun juga di jagad raya. Perhimpunan hipertensi internasional (International Society of Hypertension) pada tahun 2014 mencatat bahwa kenaikan tekanan darah > 140/ 90 mmHg akan menyebabkan kematian sebesar 9.4 juta sepanjang tahun 2010 di seluruh dunia.  Tekanan darah tinggi juga merupakan beban bagi biaya kesehatandi berbagai Negara. Di Eropa dan Asia tengah, hipertensi dan berbagai komplikasinya mengahbiskan sekitar 25% dari seluruh biaya kesehatan negara.

            Limapuluh persen dari penyebab hipertensi adalah pola hidup yang tidak sehat. Hampir 30% kasus tekanan darah tinggi berhubungan dengan asupan garam yang tinggi, 20% berhubungan dengan asupan kalium yang rendah (Kurangnya intake sayur dan buah). 20% berhubungan dengan aktivitas fisik  yang kurang (sedentary life style).Kegemukan (obesitas) menjadi 30% penyebab hipertensi, sementara merokok dan konsumsi alkohol juga berperan terhadap terjadinya hipertensi.

            Menurut data badan kesehatan dunia (World Health Organization), dua pertiga penderita hipertensi berada di negara-negara yang ekonominya sedang berkembang. Di negara-negara ini , penyakit jantung dan stroke sebagai akibat tekanan darah tinggi terjadi pada penderita dengan usia yang lebih muda. Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya mengidap hipertensi ; yang tahu dirinya mengidap hipertensi tidak berobat secara teratur bahkan tidak berobat sama sekali. Biasanya negara-negara ini belum mempunyai program secara nasional untuk mengobati dan mencegah hipertensi. Mengapa ini bisa terjadi ? Jawaban tidak lain dan tidak bukan adalah karena tekanan darah tinggi tidak memberikan keluhan dan gejala yang khas. Itulah sebabnya mengapa tekanan darah tinggi dijuluki sebagai The silent Killeratau “Pembunuh Diam-diam.”

 

Kejadian Tekanan Darah tinggi di Indonesia

            Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 didapati angka kejadian tekanan darah tinggi sebesar 25.8%, menurun dibandingkan tahun 2007 yakni sebesar 31.7%. Angka kejadian ini didapat melalui pengukuran pada usia > 18 tahun dengan 4 propinsi tertinggi yakni Bangka Belitung (30.9%)  diikuti Kalimantan Selatan (30.8%), Kalimantan Timur (29.6%) dan Jawa Barat (29.4%). Sementara 4 propinsi dengan angka kejadian terendah adalah Papua , DKI Jakarta, Bali dan Papua Barat. Data RISKESDAS juga menunjukkan bahwa angka kejadian tekanan darah tinggi lebih banyak terjadi pada penduduk yang tidak sekolah dan tidak bekerja dibandingkan dengan kelompok ekonomi lainnya.

Gambar 1. Kejadian Hipertensi Berdasarkan Pengukuran pada umur > 18 tahun menurut provinsi , 2007 dan 2013

 

Keluhan dan Gejala Tekanan Darah Tinggi

            Yang menjadi pertanyaan bagi masyarakat adalah , apakah tekanan darah tinggi atau hipertensi memiliki keluhan atau gejala yang spesifik ? Bagi masyarkat keluhan sakit kepala, sakit tengkuk, pusing, mual, kesemutan pada anggota gerak, cepat marah dan mudah tersinggung merupakan gejala dan keluhan pasien hipertensi. Namun demikian secara teoritis hipertensi tidak memberikan keluhan dan gejala yang khas sehingga banyak penderita tidak menyadarinya. Keluhan muncul bila hipertensi sudah memberikan komplikasi berupa mudah capek karena pembesaran jantung, kelemahan anggota gerak karena stroke dan kerusakan ginjal. Karena itu tekanan darah tinggi sering dijuluki sebagai The Silent Killer atau “Pembunuh Diam-Diam”.

 

Apa Komplikasi Yang Terjadi Bila Tekanan Darah Tidak Terkontrol atau Tidak Diobati dengan Baik ?

            Hipertensi yang tidak dikendalikan dan tidak menjalani pengobatan akan berakibat munculnya berbagai kerusakan sejumlah organ penting antara lain jantung, otak, ginjal, dan retina mata. Bahkan hipertensi dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Tentu komplikasi yang muncul akan sangat merugikan dan mengurangi produktivitas  penderita.

            Satu penelitian klasik oleh Perera pada tahun 1955 terhadap 500 penderita hipertensi yang tidak diobati menunjukkan bahwa terjadi kerusakan organ penting yang dapat diperiksa secara klinis termasuk foto rontgen dada (toraks) dan elektrokardiogram (EKG). Kelangsungan hidup (survival) dalam beberapa tahun akan menurun drastis setelah terdeteksi adanya kerusakan organ seperti penebalan bilik kiri jantung , gagal jantung (heart failure) , gagal ginjal (renal failure) gangguan aliran darah ke otak maupun stroke. Setiap kenaikan tekanan darah sebesar 20/10 mmHg akan meningkatkan risiko kematian penyakit jantung dua kali lipat.

            Oleh karena itu sangat penting untuk memeriksa tekanan darah sejak usia remaja, dan apabila memang didapati adanya kenaikan tekanan darah maka harus diperiksa dan diobati sampai tekanan darah terkontrol.

 

Bagaimana Mengukur Tekanan Darah dengan Benar

Gambar 2. Posisi yang benar dalam melakukan pengukuran tekanan darah

 

            Pengukuran tekanan darah harus dilakukan dengan benar karena pengukuran yang tidak tepat akan menyebabkan kesimpulan yang tidak tepat. Karenanya dalam menentukan tekanan darah tinggi tekhnik pengukuran yang standar mutlak dilakukan. Adapun tekhnik  pengukuran darah  yang direkomendasikan oleh berbagai pedoman tentang hipertensi adalah orang yang akan diukur tekanan darahnya harus tenang dan relaks beberapa menit sebelumnya . Tidak boleh merokok, tidak boleh minum kopi atau minuman lainnya yang mengandung kafein. Alat ukur yang digunakan adalah tensimeter merkuri ataupun digital yang sudah dikalibrasi .

            Pasien diperiksa dalam keadaan duduk di kursi dengan sandaran punggung, menggunakan manset (Cuff) yang sesuai. Ada manset yang digunakan untuk penderita dewasa yang gemukdan ada untuk pasien dewasa yang tidak gemuk da nada juga manset khusus buat anak-anak. Manset yang lebih kecil dari yang seharusnya akan menyebabkannhasil pengukuran yang lebih tinggi demikian juga sebaliknya. Lengan penderita diposisikan di atas meja, manset dipasang setinggi jantung. Kemudian dilakukan pemeriksaan tekanan darah dengan tensimeter dan hasilnya dicatat sebagai tekanan darah sistolik dan diastolik.

 

Klasifikasi Tekanan Darah

            Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah bila tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau tekanan darah diastolik > 89 mmHg berdasarkan rata-rata dua atau tiga kali pengukuran yang cermat sewaktu duduk dalam satu atau dua kali kunjungan.

Gambar 3 . Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi Berdasarkan Joint National Committee 7

Gambar 4 Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan European Society of Cardiology/ (ESC) / International Society of Hypertension (ISH) 2007

 

Komplikasi Hipertensi

            Hipertensi yang tidak memberikan keluhan khas secara perlahan namun secara pasti akan menimbulkan kerusakan target organ bila hipertensi ini tidak dikendalikan dengan baik. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh sasaran (Target organ damage) yaitu jantung (penebalan dan pembesaran jantung), ginjal (kerusakan ginjal), saraf otak (stroke), mata (gangguan saraf mata atau perdarahan )dan bahkan disfungsi ereksi.

Gambar 5 Komplikasi Hipertensi Pada Organ Tubuh Sasaran  (Target Organ Damage)

Tujuan Dan Sasaran Pengobatan

            Tujuan pengendalian tekanan darah tinggi adalah untuk mencegah kerusakan terhadap organ-organ sasaran atau komplikasi dan menurunkan angka kematian. Penderita hipertensi diobati secara keseluruhan dengan sasaran tekanan darah yang harus dicapai berdasarkan kondisi yang ada pada penderita.

Tabel kondisi dan sasaran tekanan darah yang dianjurkan

KONDISI

SASARAN TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN DIASTOLIK (mmHg)

Hipertensi Sistolik Terisolasi

< 140

Hipertensi Sistolik / Diastolik

. TDS

. TDD

 

< 140

<  90

Diabetes

. Sistolik

. Diastolik

 

Penyakit Ginjal Menahun Non DM

. Sistolik

. Diastolik

 

< 130

<  80

 

 

< 140

<  90

 

PENGOBATAN HIPERTENSI

Modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah

MODIFIKASI

REKOMENDASI

PENURUNAN TEKANAN DARAH SISTOLIK

Menurunkan berat badan

Pelihara berat badan normal (BMI 18.5-24.9)

5 – 20 mmHg untuk setiap penurunan 10 KgBB

Menjalankan menu DASH

Konsumsi makanan kaya buah, sayur, susu rendah lemak dan rendah lemak jenuh

8 – 14 mmHg

Mengurangi asupan garam/ sodium

Kurangi natrium sampai tidak lebih dari 2.4 g/ hari atau NaCl 6 g/ hari

2 – 8 mmHg

Meningkatkan aktifitas fisik

Berolah raga aerobic teratur seperti misalnya berjalan kaki (30 menit/ hari 4 – 5 hari seminggu)

4 – 9 mmHg

Kurangi Konsumsi alkohol

Batasi konsumsi alcohol, jangan lebih dari 2/ hari untuk pria dan 1 / hari untuk perempuan

2 – 4 mmHg

Sumber: Campbell, N. et al 2012 Canadian Hypertension Education Program Recommendation

Obat-Obat Anti Hipertensi

            Pada saat ini kita sudah mengenal sejumlah obat yang bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah. Ada obat yang bersifat mengeluarkan cairan dan garam atau dikenal sebagai Diuretika . Obat golongan ini yang paling banyak dikenal adalah Hidroklorotiazid (HCT) yang harganya murah dan tersedia di Puskesmas atau klinik-klinik. Ada juga obat anti hipertensi lainnya seperti Nifedipin, Amlodipine, Bisoprolol, Carvedilol, Captopril, Lisinopril, Ramipril, Candesartan, Irbesartan, Losartan dan obat-obat antiu hipertensi lainnya yang sudah banyak dikenal masyarakat.

            Pada prinsipnya semua obat yang berkhasiat menurunkan tekanan darah  dapat digunakan sebagai obat untuk mengontrol tekanan darah. Namun demikian obat-obat tersebut haruslah diberikan oleh dokter dengan kaidah-kaidah pemilihan obat yang tepat dengan dosis yang sesuai sehingga hipertensi dapat dikendalikan dan komplikasi tekanan darah tinggi dapat dicegah.

 

PENUTUP

            Hipertensi atau tekanan darah tinggi hanya dapat diketahui dengan cara  mengukur tekanan darah dengan benar karena hipertensi tidak memberikan gejala. Itulah sebabnya hipertensi sering disebut sebagai pembunuh diam-diam atau “the silent killer”.

Pengobatn hipertensi yang tepat dengan pendekatan pola hidup sehat dan minum obat secara teratur akan dapat mengontrol tekanan darah sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi hipertensi dan terlindunginya organ target antara lain jantung, pembuluh darah, mata dan ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Campbell NRC, Lackland DT, Nieblyski ML. The World Hypertension league and International society of hypertension Executive Committes. High Blood Pressure : Why Prevention and Control Are Urgent and Important – A 2014 Fact Sheet From the World Hypertension League and the International Society of Hypertension. J ClinHypertens. 2014; 16:551-3
  2. Guidelines Committee of the 2003 ESH-ESC Guidelines for the management of arterial hypertension. J Hypertens 2003;21:1011-53
  3. Kaplan , Norman M. Kaplan’s Clinical Hypertension. Lippincott, Williams &Wilkins. Philadelpia.2002
  4. Mancia , G et al. Reappraisalof European guidelines on hypertension management; a European Societyof Hypertension Task Forcedocument Giuseppe Journal of hypertension2009, 27:2121-2158
  5. Roesli R, Sofiatin Y. Epidemiologi hipertensi. Buku ajar Hipertensi. Yuda Turana, Bambang Widyantoro, Editor. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia. Jakarta .2017
  6. World Health Organization. A Global Brief on Hypertension, World Health Day2013 Switzerland: WHO; 2013